Macam-Macam Sita yang Dikenal Di Lingkungan Peradilan Umum

Ada beberapa macam SITA yang dikenal Peradilan Umum. Bahwa Permohonan SITA adalah termasuk upaya untuk menjamin Hak Penggugat/Pemohon seandainya ia menang dalam perkara, sehingga putusan Pengadilan yang mengakui segala haknya itu, dapat dilaksanakan dan agar gugatan tidak illusoir, kabur dan tidak bernilai, dan demi menghindari usaha dari Tergugat untuk mengalihkan hartanya kepada pihak lainnya.

Permohonan SITA dapat diajukan sebelum perkara diputus, bahkan dapat juga diajukan setelah perkara diputus sepanjang belum inkracht, artinya sekalipun perkara itu banding dan/atau kasasi, masih dapat diajukan. Namun biasanya sudah diajukan bersama-sama dengan gugatan. Bila permohonan sita dikabulkan dan ternyata nanti pemohon tersebut menang dalam perkara maka sita tersebut akan dinyatakan sah dan berharga dalam dictum/amar putusan dan pada waktu eksekusi, sita tersebut akan berubah akan berubah menjadi sita eksekusi. Demikian juga sebaliknya, kalau gugatan penggugat ditolak, dengan sendirinya harus dinyatakan di dalam dictum/amar putusan untuk diangkat (dicabut).

Ada macam-macam SITA yang dikenal di lingkungan Peradilan Umum:

  1. Sita Revindikasi (Revindicatoir Beslagh)

Sita yang dilakukan oleh Pengadilan terhadap benda bergerak milik sendiri yang berada di tangan orang lain atau terhadap benda milik sendiri yang telah dijual tetapi belum dibayar harganya oleh pembeli. Permohonan kepada Pengadilan untuk dilakukan Sita Revindicatoir tidak memerlukan kepada adanya dugaan beralasan terlebih dahulu bahwa si tersita akan menggelapkan atau akan melenyapkan barang yang dimohonkan sita. Barang yang disita boleh dititipkan kepada si tersita sendiri dengan konsekuensi ia harus memeliharanya, tidak boleh rusak/hilang/dipindahtangankan, tetapi boleh juga disimpan ditempat lain, misalnya di Pengadilan sendiri, asal aman dan terpelihara dari kerusakan.

  1. Sita Marital atau Matrimonial

Sita Marital tidak terdapat di dalam HIR atau RBg, melainkan hanya dijumpai di dalam BW (Buergerlijke Wetboek) dan RV (Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering) yang sekarang ini sering dipakai di lingkungan Peradilan Umum. Sita Marital dapat dicontohkan misalnya istri (yang tunduk kepada hukum perdata BW) boleh mengajukan permohonan ke Pengadilan agar selama dalam masa sengketa perceraian yang sekaligus harta bersama di muka Pengadilan, agar si suami tidak memindahkan atau mentransfer harta kekayaan milik besama tersebut. Sita Marital ini dimohonkan oleh istri, karena menurut BW si istri tidak mungkin menjualkan sebab ia tidak mampu bertindak hukum kecuali atas bantuan suaminya (aturan kecakapan hukum yang sudah lama ditinggalkan), sehingga yang mungkin menjual/mentransfer hanyalah suami.

  1. Sita Jaminan (Conservatoir Beslagh)

Sita Jaminan atau Conservatoir Beslagh yang biasanya disingkat CB adalah sita yang dilakukan oleh Pengadilan atas permohonan dari pihak Penggugat atas milik orang lain (yakni milik Tergugat) agar hak penggugat terjamin akan dipenuhi oleh tergugat setelah penggugat diputus menang dalam perkaranya nanti. Permohonan sita jaminan harus adanya dugaan beralasan bahwa pihak tergugat akan menggelapkan atau melepaskan barangnya sehingga nantinya tidak mampu membayar menurut yang diputuskan oleh Pengadilan, sehingga putusan itu hanya sia-sia. Oleh karena itu, sebelum permohonan conservatoir beslagh (CB) dikabulkan, harus dipertimbangkan dulu oleh Hakim Majelis apakah dapat dikabulkan atau tidak, Putusan Hakim Majelis akan berupa putusan sela. Jika permohonan sita dikabulkan maka perintah penyitaan tidak boleh oleh Hakim Ketua Majelis tetapi mesti oleh Ketua Pengadilan.

 

KANTOR PENGACARA & KONSULTAN HUKUM “FARID SR & PARTNERS” siap menjadi Pengacara anda. Apabila anda tertarik untuk berkonsultasi dan menjadi Klien kami silahkan hubungi di Nomor Hp. 082175945888 (WA Available) atau via email di faridsr.lawoffice@gmail.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× KONSULTASI HUKUM